HAKIKAT ETIKA BISNIS
A.
Hakikat Etika Bisnis
Menurut Drs. O.P. Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi-asumsi bisnis, baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Contoh praktek etika bisnis yang dihubungkan dengan moral :
Uang milik perusahaan tidak boleh diambil atau ditarik oleh setiap pejabat perusahaan untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika bisnis. Memiliki uang dengan cara merampas atau menipu adalah bertentangan dengan moral. Pejabat perusahaan yang sadar etika bisnis, akan melarang pengambilan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, Pengambilan yang terlanjur wajib dikembalikan.
Pejabat yang sadar, disebut memiliki kesadaran moral, yakni keputusan secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu adalah tanggungjawabnya, bukan saja selaku karyawan melainkan juga sebagai manusia yang bermoral.
Contoh tidak memiliki kesadaran moral :
Seorang berdarah dingin di jalan juanda, Jakarta yang asangat ramai itu menodong dengan clurit dan merampas harta milik seseorang. Baginya menodong itu merupakan kebiasaan dan menjadi profesinya. Apakah ada kesadaram moral bahwa perbuatan itu bertentangan dan dilarang oleh ajaran agama, hukum dan adat? Sejak kecil ia ditingggalkan oleh ibu bapaknya akibat perceraian, ia bergaul dengan anak gelandangan,pencuri. Sesudah dewasa menjadi penodong ulung. Ia menodong atau membunuh tanpa mengenal rasa takut atau berdosa, bahkan sudah merupakan suatu profesi.
Menurut Drs. O.P. Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi-asumsi bisnis, baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Contoh praktek etika bisnis yang dihubungkan dengan moral :
Uang milik perusahaan tidak boleh diambil atau ditarik oleh setiap pejabat perusahaan untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika bisnis. Memiliki uang dengan cara merampas atau menipu adalah bertentangan dengan moral. Pejabat perusahaan yang sadar etika bisnis, akan melarang pengambilan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, Pengambilan yang terlanjur wajib dikembalikan.
Pejabat yang sadar, disebut memiliki kesadaran moral, yakni keputusan secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu adalah tanggungjawabnya, bukan saja selaku karyawan melainkan juga sebagai manusia yang bermoral.
Contoh tidak memiliki kesadaran moral :
Seorang berdarah dingin di jalan juanda, Jakarta yang asangat ramai itu menodong dengan clurit dan merampas harta milik seseorang. Baginya menodong itu merupakan kebiasaan dan menjadi profesinya. Apakah ada kesadaram moral bahwa perbuatan itu bertentangan dan dilarang oleh ajaran agama, hukum dan adat? Sejak kecil ia ditingggalkan oleh ibu bapaknya akibat perceraian, ia bergaul dengan anak gelandangan,pencuri. Sesudah dewasa menjadi penodong ulung. Ia menodong atau membunuh tanpa mengenal rasa takut atau berdosa, bahkan sudah merupakan suatu profesi.
Definisi Etika Bisnis
Pertama adalah kata etika, Menurut bahasa
Yunani, kata etika berawal dari kata ethos yang memiliki arti sikap, perasaan,
akhlak, kebiasaan, watak. Sedangkan Magnis Suseno berpendapat bahwa etika
merupakan bukan suatu ajaran melainkan suatu ilmu. Kata kedua adalah bisnis,
yang diartikan sebagai suatu usaha. Jika kedua kata tersebut dipadukan, yaitu
etika bisnis maka dapat didefinisikan sebagai suatu tata cara yang dijadikan
sebagai acuan dalam menjalankan kegiatan berbisnis. Dimana dalam tata cara
tersebut mencakup segala macam aspek, baik dari individu, institusi, kebijakan,
serta perilaku berbisnis.
Pengertian
Etika Bisnis dan Cara Penyusunannya. Untuk menyusun etika bisnis yang bagus,
maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini, yaitu tentang pengendalian
diri, pertanggungjawaban sosial, menjadikan persaingan secara sehat, penerapan
konsep yang berkelanjutan, dapat mempertahankan keyakinannya, konsisten dengan
sebuah aturan yang sudah disepakati bersama, penumbuhan kesadaran serta rasa
memiliki dengan apa yang sudah disepakati, menciptakan suatu sikap untuk saling
percaya pada antar golongan pengusaha, serta perlu diadakannya sebagian dari
etika bisnis untuk dimasukkan dalam hukum yang dapat berupa suatu
perundang-undangan.
Etiket moral hukum dan agama
Pebedaan Etika dan Etiket
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, batas antara etika dan etiket
bisa sangat tipis. Padahal sua terminologi tersebut sangat berbeda satu sama
lain, meskipun disana sini tetap masih ada persamaan antara etika dan etiket
menyangkut tindakan dan perilaku manusia, etika dan etiket mengatur perilaku
manusia secara normatif.
Sementara ini ada beberapa perbedaan pokok antara etika dan etiket
(lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta 2004:257):
1. Etika menyangkut cara pembuatan
yang harus dilakukan oleh seorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan
menunjukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu, etika memberikan
norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan
suatu bisa dilakukan antara ya dan tidak.
2. Etiket hanya berlaku dalam
pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku ketika ada orang lain. Sementara
itu, etika tidak bisa memperhatikan orang lain atau tidak.
3. Etiket bersifat relatif. Dalam
arti bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan
etiket tertentu. Etika jauh lebih bersifat mutlak. Prinsip etika bisa sangat
universal dan tidak bisa ada proses tawar-menawar.
4. Etiket hanya menyangkut segi
lahiriah saja. Sementara, etika lebih menyangkut aspek internal manusia. Dalam
hal etiket, orang bisa munafik. Tetapi dalam hal yang berperilaku etis, manusia
tidak bisa bersifat kontradiktif.
Perbedaan Moral dan Hukum
Sebenarnya atau keduanya terdapat hubungan yang cukup erat. Karena antara satu
dengan yang lain saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Kualitas hukum
ditentukan oleh
moralnya. Karena itu hukum
harus dinilai/diukur dengan norma moral. Undang-undang moral tidak diganti
apabila dalam suatu masyarakat kesadaran moralnya mencapai tahap cukup matang.
Sebaliknya moralpun membutuhkan hukum, moral akan mengambang saja apabila tidak
dikukuhkan, dingkapkan, dan dilembagakan dalam masyarakat. Dengan demikian,
hukum dapat meningkatkan dampak sosial moralitas.
Walaupun begitu tetap saja
antara moral dan hukum harus dibedakan. Perbedaan tersebut antara lain:
1. Hukum bersifat objektif karena
hukum dituliskan dan disusun dalam kitab undang-undang. Maka, hukum memiliki
kepastian yang lebih besar.
2. Norma bersifat subjektif dan
akibatnya seringkali diganggu oleh pernyataan atau diskusi yang menginginkan
kejelasan tentang etis dan tidaknya.
3. Hukum hanya membatasi ruang
lingkupnya pada tingkah laku lahiriah manusia saja.
4. Sedangkan moralitas menyangkut
perilaku batin seseorang.
5. Sanksi hukum biasanya dapat
dipaksakan.
6. Sedangkan sanksi moral
satu-satunya adalah pada kenyataan bahwa hati nuraninya akan merasa tidak
tenang.
7. Sanksi hukum pada dasarnya
didasarkan pada kehendak masyarakat.
8. Sedangkan moralitas tidak akan
dapat dirubah oleh masyarakat.
Perbedaan Etika dan Agama
Etik
mendukung keberadaan agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam
menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah. Perbedaan antara etika dan
ajaran moral agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional.
Sedangkan agama menuntut seseorang untuk mendasarkan diri pada wahyu Tuhan dan
ajaran agama.
Dalam
agama ada etika dan sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika.
Kedua berkaitan, namun terpisahkan secara teoritis. Dalam tataran praktis kita
tidak bisa mengesampingkan salah satu diantaranya. Kita misalnya, tidak berbuat
suatu hal yang lantas hanya didasarkan pada agama saja tanpa memperhatikan
etika atau sebaliknya. Keberagaman pada dasarnya memperhatikan etika yang
berlaku, dan sebaliknya seseorang akan dikatakan memiliki etika, jika kemudian
memperhatikan agama yang ada.
perbedaan etika dan moral
etika lebih condong kearah ilmu
tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode
etik. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan atau nilai yang
berkenan dengan baik buruk.
Dua
kaidah dasar moral adalah:
1. Kaidah sikap baik. Pada
dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik itu
harus dinyatakan dalam bentuk yang konkret, tergantung dari apa yang baik dalam
situasi kongkrit.
2. Kaidah keadilan. Prinsip
keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang
lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja
disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing.
Klasifikasi Etika
1. Etika Normatif
Etika normatif merupakan cabang etika yang
penyelidikannya terkait dengan pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana
seharusnya seseorang bertindak secara etis. Dengan kata lain, etika normatif
adalah sebuah studi tindakan atau keputusan etis. Di samping itu, etika
normatif berhubungan dengan pertimbangan-pertimbangan tentang apa saja
kriteria-kriteria yang harus dijalankan agar sautu tindakan atau kepusan itu
menjadi baik (Kagan, 1997, 2).
Dalam etika normatif ini muncul teori-teori etika, misalnya etika utilitarianisme, etika deontologis, etika kebajikan dan lain-lain. Suatu teori etika dipahami bahwa hal tersebut mengajukan suatu kriteria tertentu tentang bagaimana sesorang harus bertindak dalam situasi-situasi etis (Williams, 2006, 72). Dalam pengajukan kriteria norma tersebut, teori etika akan memberikan semacam pernyataan yang secara normatif mengandung makna seperti "Fulan seharusnya melakukan X" atau "Fulan seharusnya tidak melakukan X".
Harus dipahami bahwa setiap teori etika didasarkan pada
sebuah kriteria tertentu tentang apa yang etis untuk dilakukan. Kriteria ini
disusun berdasarkan prioritas, di mana dari kriteria umum bisa diturunkan
menjadi prinsip-prinsip etis yang lebih konkret. Dengan begitu, suatu tindakan
dapat disebut etis jika ada kondisi-kondisi tertentu yang memenuhi
prinsip-prinsip etis yang diturunkan dari kriteria umum dalam sebuh teori etika
normatif tersebut.
Misalnya pada teori etika utilitarian, kriteria umum itu
adalah suatu
tindakan dianggap benar atau baik jika menghasilkan utilitas paling besar bagi
semua orang yang terpengaruh oleh tindakan atau keputusan tersebut, termasuk
orang yang melakukan tindakan. Lain halnya dengan teori etika deontologis Kant
yang punya kriteria umum sebagai berikut: "Bertindaklah seolah-olah maksim
tindakan Anda melalui keinginan Anda sendiri dapat menjadi sebuah Hukum Alam
yang Universal" (Tännsjö, 2008, 56-58).
2. Etika Terapan
Etika terapan merupakan sebuah penerapan teori-teori etika
secara lebih spesifik kepada topik-topik kontroversial baik pada domain privat
atau publik seperti perang, hak-hak binatang, hukuman mati dan lain-lain. Etika
terapan ini bisa dibagi menjadi etika profesi, etika bisnis dan etika
lingkungan. Secara umum ada dua fitur yang diperlukan supaya sebuah permasalahan dapat dianggap sebagai masalah etika
terapan.
Pertama, permasalahan tersebut harus kontroversial dalam
arti bahwa ada kelompok-kelompok yang saling berhadapan terkait dengan
permasalahan moral. Masalah pembunuhan, misalnya tidak menjadi masalah etika
terapan karena semua orang setuju bahwa praktik tersebut memang dinilai tidak
bermoral. Sebaliknya, isu kontrol senjata akan menjadi masalah etika terapan
karena ada kelompok yang mendukung dan kelompok yang menolak
terhadap isu kontrol senjata.
Kedua, sebuah permasalahan menjadi permasalahan etika
terapan ketika hal itu punya dimensi dilema etis. Meskipun ada
masalah yang kontroversial dan memiliki dampak penting terhadap masyarakat, hal
itu belum tentu menjadi permasalahan etika terapan. Kebanyakan masalah yang
kontroversial di masyarakat adalah masalah kebijakan sosial. Tujuan dari
kebijakan sosial adalah untuk membantu suatu masyarakat tertentu berjalan
secara efisien yang dilegitimasinya disandarkan pada konvensi tertentu, seperti
undang-undang, peraturan-peraturan dan lain-lain
(Debashis,
2007, 28-30).
Berbeda
dengan permasalahan etis yang lebih
bersifat universal, seperti kewajiban untuk tidak berbohong, dan tidak terbatas
pada suatu masyarakat tertentu saja. Seringkali memang isu-isu kebijakan sosial
tumpang tindih dengan isu-isu moralitas. Namun, dua kelompok isu tersebut bisa
dibedakan dengan mengunakan kedua pendekatan yang dilakukan di atas.
Dengan begitu bisa dimengerti bahwa istilah etika terapan
digunakan untuk menggambarkan upaya untuk menggunakan metode filosofis
mengidentifikasi apa saja yang benar secara moral terkait dengan tindakan dalam
berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya, bioetika yang berhubungan dengan
mengidentifikasi pendekatan yang benar untuk persoalan-persoalan seperti
euthanasia, penggunaan embrio manusia dalam penelitian dan lain-lain.
3. Etika Deskriptif
Etika
deskriptif merupakan sebuah studi tentang apa yang dianggap 'etis' oleh
individu atau masyarakat. Dengan begitu, etika deskriptif bukan sebuah etika
yang mempunyai hubungan langsung dengan filsafat tetapi merupakan sebuah bentuk
studi empiris terkait dengan perilaku-perilaku individual atau kelompok. Tidak
heran jika etika deskriptif juga dikenal sebagai sebuah etika komparatif yang
membandingkan antara apa yang dianggap etis oleh satu individu atau masyarakat
dengan individu atau masyarakat yang lain serta perbandingan antara etika di
masa lalu dengan masa sekarang. Tujuan dari etika deskriptif adalah untuk
menggambarkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai
bernilai etis serta apa kriteria etis yang digunakan untuk menyebut
seseorang itu etis atau tidak (Kitchener, 2000, 3).
Penyelidikan etka deskriptif juga melibatkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai sesuatu yang ideal. Artinya, kajian ini melihat apa yang bernilai etis dalam diri seseorang atau masyarakat merupakan bagian dari suatu kultur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Akan tetapi, etika deskriptif juga memberikan gambaran tentang mengapa satu prinsip etika bisa ditinggalkan oleh genarasi berikutnya.
Oleh
karena itu, etika deskriptif melibatkan stud-studi empris seperti psikologi,
sosiologi dan antropologi untuk memberikan suatu gambaran utuh. Di sini
antropologi dan sosiologi mampu memberikan segala macam informasi mengenai
bagaimana masyarakat di masa lalu dan sekarang menciptakan standar moral dan
bagaimana masyarakat itu ingin orang bertindak. Sedang, psikologi bisa
melakukan sebuah studi tentang bagaimana seseorang punya kesadaran tentang apa
itu baik dan buruk serta bagaimana seseorang membuat keputusan moral dalam
situas nyata dan situasi hipotetis (Kitchener, 2000, 3).
Akan
tetapi, etika deskriptif bisa digunakan dalam argumentasi filosofis terkait
dengan masalah etis tertentu. Observasi yang dilakukan oleh ilmu-ilmu empiris
dalam etika deskripsi seringkali menjadi argumen untuk relativisme etis.
Beragamnya fenomena dan perilaku etis di antarbudaya memberikan pemahaman bahwa
apa yang baik dan buruk tidaklah absolut, tetapi relatif. Dalam konteks ini,
moralitas dianggap relatif pada tingkat antarbudaya. Hal ini juga memberikan
pemahaman bahwa moralitas merupakan sebuah konstruksi sosial sehingga sangat tergantung
kepada subjek etis dalan lingkungannya.
Ringkasnya,
etika deskriptif mempertanyakan dua hal berikut:
1.
Apa yang seseorang atau masyarakat
klaim sebagai "baik"?
2.
Bagaimana orang bertindak secara
nyata ketika berhadapan dengan masalah-masalah etis?
4. Metaetika
Metaetika berhubungan dengan sifat penilaian moral. Fokus
dari metaetika adala arti atau makna dari pernyataan-pernyataan yang ada di
dalam etika. Dengan kata lain, metaetika merupakan kajian tingkat kedua dari
etika. Artinya, pertanyaan yang diajukan dalam metaetika adalah apa makna jika
kita berkata bahwa sesuatu itu baik?
Metaetika juga bisa dimengerti sebagai sebuah cara untuk melihat fungsi-fungsi pernyataan-pernyataan etika, dalam arti bagaimana kita mengerti apa yang dirujuk dari pernyataan-pernyataan tersebut dan bagaimana pernyataan itu didemonstrasikan sebagai sesuatu yang bermakna.
Perkembangan metaetika awalnya merupakan jawaban atas
tantangan dari Positivisme Logis yang berkembang pada abad 20-an (Lee, 1986,
8). Kalangan pendukung Positivisme Logis berpendapat bahwa jika tidak bisa
memberikan bukti yang menunjukkan sebuah pernyataan itu benar, maka pernyataan
itu tidak bermakna. Ketika prinsip dari Positivisme Logis juga diujikan kepada
pernyataan-pernyataan etis, maka pernyataan-pernyataan itu harus berdasarkan
bukti. Ringkasnya, jika tidak ada bukti, maka tidak ada makna.
Di sini kata kuncinya adalah apa yang dikenal dengan
"naturalistic fallacy", yaitu dianggap akan melakukan kesalahan jika kita
menarik suatu pernyataan tentang apa yang seharusnya dari pernyataan tentang
apa yang ada. Kesulitan dari bahasa etika adalah
penyataan-pernyataannya tidak selalu berupa fakta. Disinilah peran sentral dari metaetika
yang mengembangkan berbagai cara untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan
bahasa etika dengan intensi bahwa pernyataan-pernyataan etis punya makna. Dalam
pembahasan ini metaetika biasanya terbagi menjadi dua, yaitu realisme etis dan
nonrealisme etis
Konsepsi Etika
Terminologi
etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”. Artinya: “custom” atau kebiasaan yang
berkaitan dengan tindakan atau tingkah laku manusia. Etika berbeda dengan
etiket. Jika etika berkaitan dengan moral, etiket hanya bersentuhan dengan
urusan sopan santun. Belajar etiket berarti belajar bagaimana bertindak dalam
cara-cara yang sopan; sebaliknya belajar etika berarti belajar bagaimana
bertindak baik.( Fr. Yohanes Agus Setyono CM)
Kata etiket berasal dari kata Perancis etiquette yang diturunkan dari kata Perancis estiquette (= label tiket ; estiqu [ I ] er = melekat). Etiket didefinisikan sebagai cara-cara yang diterima dalam suatu masyarakat atau kebiasaan sopan-santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia. Etiket yang menyangkut tata cara kenegaraan disebut protokol (protocol [ Prancis ] ; protocollum [Latin ]).
Etiket antara lain menyangkut cara berbicara, berpakaian, makan, menonton, berjalan, melayat, menelpon dan menerima telepon, bertamu, dan berkenalan.( Mintarsih Adimihardja)
Konsep-konsep dasar etika antara lain adalah (Bertens, 2002): (i) ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia serta azas-azas akhlak (moral) serta kesusilaan hati seseorang untuk berbuat baik dan juga untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah Laku seseorang terhadap orang lain.
Kata etiket berasal dari kata Perancis etiquette yang diturunkan dari kata Perancis estiquette (= label tiket ; estiqu [ I ] er = melekat). Etiket didefinisikan sebagai cara-cara yang diterima dalam suatu masyarakat atau kebiasaan sopan-santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia. Etiket yang menyangkut tata cara kenegaraan disebut protokol (protocol [ Prancis ] ; protocollum [Latin ]).
Etiket antara lain menyangkut cara berbicara, berpakaian, makan, menonton, berjalan, melayat, menelpon dan menerima telepon, bertamu, dan berkenalan.( Mintarsih Adimihardja)
Konsep-konsep dasar etika antara lain adalah (Bertens, 2002): (i) ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia serta azas-azas akhlak (moral) serta kesusilaan hati seseorang untuk berbuat baik dan juga untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah Laku seseorang terhadap orang lain.
Teori-teori
etika:
1. Utilitarianisme
Utilitarianisme menyatakan bahwa suatu tindakan diangap baik bila tindakan ini meningkatkan derajat manusia. Penekanan dalam utilitarianisme bukan pada memaksimalkan derajat pribadi, tetapi memaksimalkan derajat masyarakat secara keseluruhan. Dalam implementasinya sangat tergantung pada pengetahuan kita akan hal mana yang dapat memberikan kebaikan terbesar. Seringkali, kita tidak mungkin benar-benar mengetahui konsekuensi tindakan kita sehingga ada resiko bahwa perkiraan terbaik bisa saja salah.
1. Utilitarianisme
Utilitarianisme menyatakan bahwa suatu tindakan diangap baik bila tindakan ini meningkatkan derajat manusia. Penekanan dalam utilitarianisme bukan pada memaksimalkan derajat pribadi, tetapi memaksimalkan derajat masyarakat secara keseluruhan. Dalam implementasinya sangat tergantung pada pengetahuan kita akan hal mana yang dapat memberikan kebaikan terbesar. Seringkali, kita tidak mungkin benar-benar mengetahui konsekuensi tindakan kita sehingga ada resiko bahwa perkiraan terbaik bisa saja salah.
2.
Analisis Biaya-Keuntungan (Cost-Benefit Analysis)
Pada dasarnya, tipe analisis ini hanyalah satu penerapan utilitarianisme. Dalam analisis biaya-keuntungan, biaya suatu proyek dinilai, demikian juga keuntungannya. Hanya proyek-proyek yang perbandingan keuntungan terhadap biayanya paling tinggi saja yang akan diwujudkan. Bila dilihat dari teorinya, sangatlah mudah untuk menghitung biaya dan keuntungan, namun dalam penerapannya bukan hanya hal-hal yang bersifat materi saja yang perlu diperhitungkan melainkan hal-hal lahir juga perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan.
Pada dasarnya, tipe analisis ini hanyalah satu penerapan utilitarianisme. Dalam analisis biaya-keuntungan, biaya suatu proyek dinilai, demikian juga keuntungannya. Hanya proyek-proyek yang perbandingan keuntungan terhadap biayanya paling tinggi saja yang akan diwujudkan. Bila dilihat dari teorinya, sangatlah mudah untuk menghitung biaya dan keuntungan, namun dalam penerapannya bukan hanya hal-hal yang bersifat materi saja yang perlu diperhitungkan melainkan hal-hal lahir juga perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan.
3.
Etika Kewajiban dan Etika Hak
Etika kewajiban (duty ethics) menyatakan bahwa ada tugas-tugas yang harus dilakukan tanpa mempedulikan apakah tindakan ini adalah tindakan terbaik. Sedangkan, etika hak (right-ethics) menekankan bahwa kita semua mempunyai hak moral, dan semua tindakan yang melanggar hak ini tidak dapat diterima secara etika.
Etika kewajiban dan etika hak sebenarnya hanyalah dua sisi yang berbeda dari satu mata uang yang sama. Kedua teori ini mencapai akhir yang sama; individu harus dihormati, dan tindakan dianggap etis bila tindakan itu mempertahankan rasa hormat kita kepada orang lain. Kelemahan dari teori ini adalah terlalu bersifat individu, hak dan kewajiban bersifat individu. Dalam penerapannya sering terjadi bentrok antara hak seseorang dengan orang lain.
Etika kewajiban (duty ethics) menyatakan bahwa ada tugas-tugas yang harus dilakukan tanpa mempedulikan apakah tindakan ini adalah tindakan terbaik. Sedangkan, etika hak (right-ethics) menekankan bahwa kita semua mempunyai hak moral, dan semua tindakan yang melanggar hak ini tidak dapat diterima secara etika.
Etika kewajiban dan etika hak sebenarnya hanyalah dua sisi yang berbeda dari satu mata uang yang sama. Kedua teori ini mencapai akhir yang sama; individu harus dihormati, dan tindakan dianggap etis bila tindakan itu mempertahankan rasa hormat kita kepada orang lain. Kelemahan dari teori ini adalah terlalu bersifat individu, hak dan kewajiban bersifat individu. Dalam penerapannya sering terjadi bentrok antara hak seseorang dengan orang lain.
4.
Etika Moralitas
Pada dasarnya, etika moralitas berwacana untuk menentukan kita sebaiknya menjadi orang seperti apa. Dalam etika moralitas, suatu tindakan dianggap benar jika tindakan itu mendukung perilaku karakter yang baik (bermoral) dan dianggap salah jika tindakan itu mendukung perilaku karakter yang buruk (tidak bermoral). Etika moral lebih bersifat pribadi, namum moral pribadi akan berkaitan erat dengan moral bisnis. Jika perilaku seseorang dalam kehidupan pribadinya bermoral, maka perilakunya dalam kehidupan bisnis juga akan bermoral.
Pada dasarnya, etika moralitas berwacana untuk menentukan kita sebaiknya menjadi orang seperti apa. Dalam etika moralitas, suatu tindakan dianggap benar jika tindakan itu mendukung perilaku karakter yang baik (bermoral) dan dianggap salah jika tindakan itu mendukung perilaku karakter yang buruk (tidak bermoral). Etika moral lebih bersifat pribadi, namum moral pribadi akan berkaitan erat dengan moral bisnis. Jika perilaku seseorang dalam kehidupan pribadinya bermoral, maka perilakunya dalam kehidupan bisnis juga akan bermoral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar